Site Loader

Tanggal 21 April menjadi hari bagi penduduk Indonesia untuk mengenang jasa-jasa Kartini dalam kesetaraan gender. Dari mengenakan batik di sekolah hingga ucapan Hari Raya Kartini di sosial media, semua merayakan Pahlawan Kemerdekaan Nasional satu ini yang sudah menjadi simbol feminisme bagi bangsa Indonesia sendiri. Di zaman sekarang, peranan perempuan makin terasa di berbagai aspek kehidupan, salah satunya dalam hal travelling. Karena itu, sebagai marketplace yang berkecimpung dalam dunia wisata dan travelling, apalagi topik yang paling cocok untuk Kamar Pelajar bahas di Hari Raya Kartini ini kalau bukan soal Solo Female Travel!

Puluhan tahun setelah perjuangan Kartini, dan kini perempuan bisa menikmati berbagai macam kebebasan. Berwisata sendirian sebagai perempuan, tentunya menjadi sesuatu yang menghebohkan atau bahkan mustahil di zaman Kartini. Sekarang, dengan berubahnya norma dan pandangan publik, diikuti dengan perkembangan infrastruktur yang makin ramah dan inklusif untuk semua gender, berlibur sendirian sebagai perempuan, bahkan ke kontinen yang berbeda pun, telah menjadi sesuatu yang mudah dan lumrah.

Solo Female Travel adalah trend baru yang terus bertambah populer di dekade terakhir ini. Berbagai web online pencarian akomodasi melaporkan peningkatan jumlah dalam trend ini. Booking.com, misalnya, melaporkan bahwa 65% wanita di USA berpergian sendirian tanpa partner mereka. Tidak hanya itu, beberapa artikel dan survei menunjukkan terdapat lebih banyak wanita yang berlibur sendirian daripada laki-laki. Hal ini dikarenakan oleh bergesernya norma dalam masyarakat. Dibandingkan dengan dahulu, kebanyakan perempuan menikah di umur yang lebih tua. Bahkan tidak menikah sama sekali pun bisa menjadi pilihan bagi banyak perempuan mandiri yang tidak perlu lagi bergantung pada lawan jenisnya. Tanpa ikatan perkawinan dan tanggung jawab sebagai ibu, para perempuan bisa memilih berbagai kegiatan dan mengejar bermacam hobi dalam waktu luang mereka.

Di sinilah, solo travelling menjadi sebuah pilihan untuk meluangkan waktu dan kebebasan kebanyakan wanita. Solo travelling sendiri dilihat sebagai bagian dari pemeliharaan diri, baik sebagai bentuk pencarian jati diri dan arti hidup, hingga obat penyembuh sakit hati. Buku Eat, Pray, Love karya Liz Gilbert yang kemudian muncul di layar lebar dibintangi oleh Julia Roberts yang mengembara sendirian menelusuri Italia, India dan Indonesia setelah perceraiannya, menjadi contoh popular solo female travel. Namun tentu saja, patah hati tidak harus selalu menjadi alasan di balik solo female travel. Berbagai blog yang mendedikasikan konten mereka untuk solo female travel misalnya, mengungkapkan berbagai alasan seperti menguji kemampuan diri dan mencari pengalaman baru di balik fenomena ini.

Tentunya berpergian sendirian menjadi sesuatu yang awalnya menakutkan bagi banyak perempuan. Namun jangan takut! Dari berbagai tips jitu hingga akomodasi yang aman atau bahkan dikhususkan untuk perempuan, solo female travel bukanlah lagi sebuah monster yang perlu ditakutkan. Kamar Pelajar sendiri menawarkan berbagai host dari kedua jenis kelamin yang siap mendukung trend ini.

Jadi, tunggu apa lagi, girls? Mungkin di Hari Kartini ini kalian tengah berpikir untuk menambahkan poin baru di bucket list kalian. Female solo travelling adalah kesempatan bagi kalian-kalian para perempuan untuk menunjukkan kemandirian dan memuaskan jiwa berpetualang kalian. It’s a girl’s best, travel buddy!

Ditulis oleh Stephanie Tanus
Foto oleh ig @telensfix

Stephanie Tanus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *