Site Loader

Dengan budget minim dan tiket one-way ke India, Traveler of the Month kita kali ini bertekad untuk melakukan perjalanan dari Selatan India ke Indonesia melalui jalur darat! Berhasilkah ia melakukannya? Apa saja tipsnya? Simak artikel berikut!

Halo Sobat KP! Bagaimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya. Cuaca musim panas sedang baik-baiknya. Jika kamu ingin pergi berjalan-jalan keluar, tetap ikuti protokol kesehatan yang berlaku di masing-masing negara ya.

Pada rubrik Traveler of the Month kali ini kita akan ngobrol banyak tentang jalan-jalan backpacking, nih! Jadi untuk kamu yang suka traveling dengan bawaan yang ringan dan budget minim, bakalan menarik banget nih cerita yang satu ini. Buat kamu yang suka hitchhiking untuk menghemat uang transportasi juga harus stay tune untuk mendapatkan cerita keren hitchhiking jarak jauh!

Di TOtM Juli 2020, KP berkesempatan untuk berbincang santai dengan salah satu teman kita dari Cimahi, Rafli Purnama. Rafli adalah salah satu backpacker yang cukup sering berkelana bersama tas punggung serta sepatu tracknya. Yang menarik, setiap perjalanan yang ia lakukan diplot sebagai “bukan sekedar menambah jejak kaki”. Gimana tuh maksudnya? Nah, itu akan jadi topik utama kita kali ini.

Adapun cerita yang akan Ia bagikan adalah pengalamannya solo traveling yang dimulai dengan tiket one-way ke Tiruchirapalli, India, dari Jakarta. Selama hampir 5 bulan ia menjelajah negara-negara dan bertemu teman baru sekaligus berbagi kepada sesama. Dengan uang saku yang minim, Ia bertekad untuk melanjutkan perjalanannya dari India ke Indonesia melalui jalur darat! Penasaran dengan apa saja yang ia temui? Simak wawancara berikut ini!

 

Santai-santai di Hawa Mahal, Jaipur, India. credit: @purnamarafli_

KP: Hai Rafli, aku kemarin sempet ikutin ceritamu di Instagram tentang perjalanan dari India sampai Malaysia, boleh cerita dikit nggak awalnya seperti apa? Lalu boleh cerita sedikit nggak tentang perjalananmu?

Rafli: Jadi, perjalananku kemarin itu start-nya dari Indonesia, aku dapat tiket murah 600rb ke Tiruchirapalli, yang terletak di selatan India. Rencananya, perjalananku treknya dari Selatan ke Utara India dan melewati banyak kota. Adapun moda transportasi utama yang aku pakai adalah kereta serta hitchhiking. Secara garis besar, aku memulai perjalanan di Selatan India menuju daerah paling utara dan melewati banyak kota. Dan pada awalnya aku bertekad agar perjalanan ini diselesaikan hanya dengan jalur darat hingga aku pulang ke Indonesia. Bermodal tiket one-way, visa, dan uang saku sekitar 1 juta-an aku berangkat.

Cukup banyak juga kegiatan yang aku lakukan selama di India. Aku sempat mampir ke pernikahan saudara dari teman Couchsurfing, dan diterima dengan hangat. Sekitar 1 minggu aku singgah di sana, sebelum melanjutkan perjalanan. Aku juga mengunjungi pernikahan teman Couchsurfing lainnya di Hyderabad, yang sama meriahnya!

 

Dateng Kondangan, Duduknya di Pelaminan. Hyderabad credit: @purnamarafli_

Kota-kota favorit turis juga aku lewati seperti; Agra, yang terkenal dengan Taj Mahal, Jaipur, yang terkenal dengan istilah “pink city” berkat arsitekturnya berwarna pastel yang indah, Rishikesh, yang terkenal dengan kultur Yoga dan menarik banyak wisatawan yang datang untuk belajar di sana, hingga ke Delhi, yang merupakan salah satu kota terbesar di dunia. Di Delhi aku menemukan banyak teman dari mancanegara maupun Indonesia dan di sana aku melakukan proyek sosial Food Not Bombs. Aku juga mengunjungi kota-kota besar lain di India yang tak kalah menarik seperti; Chennai, Kerala, Amritsar, Chandigarh dan Lucknow.

Sebenarnya pada saat melakukan perjalanan tersebut, tensi politik domestik di India serta negara tetangga yakni Pakistan sedang memanas. Meski bukan waktu yang tepat untuk melancong, tapi aku mendapat pemahaman dan pengalaman baru. Aku melewati daerah yang kala itu sedang tengah melalui konflik agama, tapi syukur saja saat itu cukup aman.

 

Naik kereta ke dataran tinggi India. Dingin. credit: @purnamarafli_

Cerita lain juga aku temukan ketika aku sampai di Amritsar, dimana aku sempat menghadiri upacara penurunan bendera di dekat perbatasan saat kondisi antara Pakistan dan India sedang panas-panasnya. Setelah dari Amritsar, perjalanan kulanjutkan menuju Jammu dan Kashmir yang merupakan daerah rawan konflik. Kondisi di sana pun cukup sulit karena Internet sedang down dan aku bertahan tanpa internet selama 7 hari. Namun itu terbayar sesampainya aku tiba di sana, kota yang penuh konflik namun menyajikan pemandangan yang indah. Aku juga memegang salju di sana!

 

Membuat snowman ketika di Shimla. credit: @purnamarafli_

Selanjutnya, aku bergerak ke timur menuju perbatasan Myanmar. Sebab regulasi di Myanmar yang tidak membolehkan menginapkan tamu asing, aku untuk pertama kalinya mengeluarkan uang untuk biaya dorm. Di Myanmar aku lumayan banyak explore di Yangon dan Mandalay. Setelah itu aku hitchhiking lagi menuju Lampang, Thailand dimana aku sudah ditunggu oleh teman dari Indonesia yang menjadi guru di sana.

Selama di Thailand aku mengunjungi banyak kota. Di daerah Utara sendiri aku menghabiskan waktu di Chiang Mai. Dari Chiang Mai aku memecahkan rekorku untuk hitchhiking terjauh yakni lebih dari 500km ke Suphan Buri. Setelahnya aku explore sedikit di Bangkok, sebelum berpindah lagi ke daerah timur, bertemu dengan pasangan Couchsurfing yang juga sempat main ke rumahku di Indonesia. Selama 10 hari aku menginap disana dan diterima dengan baik layaknya keluarga.

Perjalanan ke Malaysia aku lanjutkan dengan hitchhiking dan singgah di beberapa kota dimana ada teman dari Indonesia atau Couchsurfing. Misalnya di Songkhla, dimana aku singgah di tempat salah satu kawan mahasiswa. Perjalanan mulus-mulus saja sampai akhirnya aku tiba di Malaysia. Sebab ada COVID-19, aku tidak berhasil untuk menyelesaikan misiku untuk kembali ke Indonesia melalui jalur darat saja. Di Kuala Lumpur aku memesan tiket pesawat untuk pulang.

KP: Wih asik banget ya 5 bulan penuh kegiatan yang mengasyikkan dan teman-teman baru. Aku tertarik sama kegiatan sosialmu ketika di Delhi itu gimana ceritanya? Apa yang melatarbelakangi itu?

Rafli: Projek sosial tersebut dilandasi oleh tujuan traveling–ku sendiri yakni “Bukan sekedar menambah jejak kaki”, jadi sekaligus berbagi. Ini banyak terinspirasi dari temen-temen traveler yang pernah melakukan hal serupa. Sebelum di India, aku juga pernah melakukan kegiatan berbagi makanan di Kamboja. Aku juga terinspirasi dari beberapa anak-anak punk yang kerap melakukan bagi-bagi makanan lewat aksi #FoodNotBombs.

 

 

Proyek sosial #FoodNotBombs, bersama teman-teman di Delhi credit: @purnamarafli_

KP: Wah, keren. Aku juga pernah denger tuh #FoodNotBombs di beberapa kota di Indonesia. Untuk funding-nya sendiri gimana tuh? Kan kamu sedari awal budget tipis?

Rafli: Aku sudah menyiapkan untuk melakukan projek itu sendiri. Uangnya didapat dari jasa paper sign yang aku promosikan di Instagram. Dalam proyek sosial tersebut aku juga dibantu oleh teman Couchsurfing dari Latvia serta Bulgaria, juga dibantu oleh teman Mahasiswa Indonesia di India. Mereka bantu banyak dalam menyediakan dan membagikan makanan ke anak-anak selama proyek tersebut.

KP: Bagaimana kamu mengatur keuangan, kan lumayan tuh hampir 5 bulan?

Rafli: Aku banyak pake aplikasi Couchsurfing dan menggunakan hitchhiking untuk moda transportasi. Aku juga bawa peralatan masak dan tenda yang bikin nggak begitu khawatir untuk akomodasi. Aku juga bawa beberapa makanan Indonesia, kayak sambal dan Indomie, biar bisa makan kalo kangen rumah. 90% akomodasi aku dapatkan dengan gratis berkat bantuan teman, serta kenalan Couchsurfing yang sudah menganggap diri sebagai keluarga satu sama lain.

KP: Gimana tuh pengalamannya selama nebeng tinggal di host CS atau warga setempat?

Rafli: Selama ini penerimaannya ramah, sih. Di situ kita perlu open-minded dan friendly dengan warga setempat. Karena aku udah dikasih tinggal gratis, aku jadi ikut bantu-bantu beresin rumah atau cuci-cuci, lumrah lah sebagai tamu.

 

Nebeng naik truk di Myanmar. credit: @purnamarafli_

 

KP: Wih keren, seru abis. Pertanyaan selanjutnya nih, model traveling yang kamu lakukan ini kan tergolong tidak biasa, siapa sih atau apa yang mendorong kamu untuk traveling dengan backpacking gini?

Rafli: Sebenarnya aku suka traveling sejak SMA. Kala itu aku sedang menggemari hiking dan otomatis jadi pergi-pergi ke beberapa bagian di Indonesia. Setelah lulus SMA, aku punya banyak waktu luang dan kala itu sedang belum ada pekerjaan, jadi aku memutuskan untuk mulai iseng backpacking. Influence utamanya adalah kakakku yang mengenalkan kultur Couchsurfing, yang membantu untuk menambah teman. Aku juga banyak baca cerita pejalan di Internet seperti; jangandiamterusbackpacker dan backpackertampan.

KP: Kamu tadi kan sempat cerita tentang penggunaan hitchhiking sebagai moda transportasi, kira kira ada cerita menarik apa saja?

Rafli: Iya, untuk transport aku cukup sering nebeng dengan pengendara. Selain biayanya gratis, kita juga bisa ngobrol dan nambah teman. Sering juga aku diajak makan bareng dengan si pemberi tumpangan. Pahitnya paling ketika harus menunggu lama karena tidak ada tumpangan. Untuk pengalaman hitchhiking terjauh, aku nebeng dari Chiang Mai ke pinggiran kota Bangkok yang di peta jaraknya sekitar 500km, dan orangnya ramah!

Tapi ketika di India, aku gak begitu sering hitchhiking, kebanyakan pakai kereta. Nah, sebenarnya aku ga nyaranin sih untuk nakal, tapi beberapa kali aku naik kereta tanpa karcis sewaktu di India. Karena padat dan pemeriksaannya jarang, jadi sering banget untuk naik kereta tanpa bayar. Pernah satu waktu ketahuan gak bawa tiket, dan kena marah sama petugasnya. Tapi cuma dimarahin aja sih, gak didenda hehe.

KP: Wih asik bener! Sobat KP pasti tertarik nih buat nyoba. Oiya, Kira-kira trik apa sih yang dibutuhkan ketika hitchhiking?

 

Orang sabar rejekinya lancar. credit: @purnamarafli_

Rafli: Intinya sabar sih, soalnya gak selalu ada tumpangan kan. Terus perlu diperhatikan juga dimana kita menunggu, pastikan di tempat yang ramai seperti persimpangan atau pom bensin. Penampilan kita juga harus terlihat seperti backpacker dan membawa sign kecil gitu bila perlu, biar kelihatan oleh pengendara.

KP: Sip. Terus kan rentang waktu perjalanan kamu bertepatan dengan booming-nya COVID-19 di Asia Tenggara, nah kamu sendiri kemarin waktu traveling terdampak imbas dari COVID-19 nggak?

Sebelum Lockdown di Malaysia. credit: @purnamarafli_

Rafli: Iya, aku merasakannya ketika di Malaysia. Rencananya aku tidak ingin menggunakan pesawat untuk pulang, tapi karena mendesak dan kebetulan ada uang tambahan jadi aku memutuskan untuk menggunakan pesawat untuk pulang ke Indonesia dari Kuala Lumpur. Pada saat hari penerbanganku, Malaysia baru saja menerapkan kebijakan Lockdown, yang membuatku tertahan di bandara selama 2 hari. Namun setelah ada kejelasan, akhirnya aku bisa pulang ke Indonesia. Syukurlah.

KP: Ada pesan-pesan lain nggak buat Sobat KP, coba dong encourage para pembaca biar mau nyoba backpacking?

Rafli: Ya intinya harus berani sih, terus kita baik sama sesama. Saling komunikasi terbuka sehingga kita bisa belajar banyak dari orang lain. Nah, itu bisa didapatkan ketika traveling, kita bisa bertemu banyak orang dan belajar berempati.

KP: Jika kondisi membaik, sudah ada planning travel ke mana gitu belum?

Rafl: Sebenarnya banyak plan yang gagal akibat COVID ini, tapi untuk selanjutnya jika memungkinkan aku ingin bersepeda. InsyaAllah renancanya ingin merencanakan naik sepeda dari Indonesia ke Eropa, estimasi perjalanan selama setahun.

KP: Gokil, semoga berhasil ya. Oiya ada salam-salam nggak buat pembaca?

Gak sabar buat gendong tas lagi! credit: @purnamarafli_

 

Rafli: Untuk saat ini, jaga kesehatan dulu ya. Buat pesanku sendiri simpel aja sih, kalahin rasa takut dengan rasa penasaran! Itu sih yang selalu mendorong aku untuk mengetahui lebih banyak.

Gimana? Tertarik juga untuk beli one-way ticket ke tempat yang jauh? Sabar ya, tunggu situasi sudah memungkinkan untuk traveling jarak jauh. Tentunya cerita Rafli selama 5 bulan perjalanan gak semuanya tertangkap dalam wawancara di atas. Untungnya, Rafli juga membagikan catatan perjalanannya melalui visual, yang bisa kamu akses di Instagram. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa tengok instagram Rafli di @purnamarafli_, siapa tau kamu jadi makin terinspirasi untuk kesempatan melancong selanjutnya!

Ikuti terus cerita seru dari para pejalan Indonesia di Traveler of the Month edisi selanjutnya ya! Ikuti juga program-program yang ada di berbagai platform Kamar Pelajar seperti; Kamar Bermain, Keluar Kamar, dan Lokakarya yang bisa kalian cari info lengkapnya di kamarpelajar.com serta Instagram @kamarpelajar

 

Penulis : Irzan Hakim
Foto : Rafli Purnama
Yang diwawancarai : Rafli Purnama

Irzan Hakim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *