Cerita Sarah di Eropa, Ternyata Perempuan Juga Bisa Solo Trip Aman di Negeri Orang

Adventure Kisah Travelling SkandinaviaLeave a Comment on Cerita Sarah di Eropa, Ternyata Perempuan Juga Bisa Solo Trip Aman di Negeri Orang

Cerita Sarah di Eropa, Ternyata Perempuan Juga Bisa Solo Trip Aman di Negeri Orang

Pernah gak, sih kepikiran buat punya solo trip? Jalan-jalan santai di negeri orang tapi benar-benar seorang diri. Apalagi buat perempuan, kira-kira bakal aman gak ya?

Annisa Sarah atau yang biasa disapa Sarah, punya pengalaman solo trip yang bakal menjawab kekhawatiran itu. 

Ceritanya dimulai waktu Sarah menjalani studi S2 di KTH Royal Institute of Technology di Swedia (2015). Punya kesempatan belajar di luar negeri rasanya kurang afdol kalau gak coba eksplor tempat wisata di sana. 

 Mengunjungi 3 Kota dan 3 Negara dalam 5 hari

Foto. Dokumen Pribadi Sarah

Begitu pun dengan Sarah, setibanya di Stockholm, Swedia pada bulan September ia langsung menjajal trip pertamanya di bulan Desember. 

Gak tanggung-tanggung, di trip perdana Sarah bersama temannya,  mereka langsung mengunjungi tiga kota dan tiga negara.

“Di situ kita ngambil cruise 5 hari 4 malam. Which is rute cruise-nya mengunjungi Tallin di Estonia, Helsinki di Finlandia, dan Saint Petersburg di Rusia, terus balik lagi ke Stockholm.” Cerita Sarah. 

Namun, waktu yang dihabiskan di tiap kotanya terbilang singkat. Pasalnya, di tiap kota antar negara ini ia hanya menghabiskan waktu singgah selama 3-4 jam.

Sisanya, banyak dihabiskan di cruise (kapal pesiar) yang ia sewa. Meski begitu, perjalanannya tetap asyik sebab banyak hiburan menarik bahkan live show yang juga disuguhkan.

“Bagian yang paling memorable dari trip ini adalah pas aku ngunjungi Museum Hermitage di Rusia, karena itu merupakan salah satu museum terbesar di dunia dan kita sampai nyasar buat cari pintu keluar.” Ucap Sarah. 

Kindle Ketinggalan di Hotel Sampai Susahnya Pesan Uber di Paris

Foto. Dokumen Pribadi Sarah

Easter break jadi waktu pilihan Sarah buat trip selanjutnya. Easter break merupakan waktu favorit Sarah untuk solo trip, karena bertepatan dengan berakhirnya Quarter 3 (Sistem pembelajaran di Swedia terbagi per-quarter, bukan hanya per-semester), dan tempat-tempat wisata pun tidak terlalu ramai. 

 Di easter break pertamanya,  dia nyobain eksplor trip sendirian ke Eropa daratan. Prancis dan Belgia jadi negara tujuan Sarah buat berlibur. Alasannya, karena di Prancis masih ada teman dan di Belgia masih ada tantenya.

Kemudian, di easter break kedua, Sarah coba eksplor ke Gdañsk dan Warsaw di Polandia. Di sini Sarah punya pengalaman gak menyenangkan, karena kindle (perangkat lunak untuk menyimpan dan menampilkan buku digital) hilang. 

“Tapi ternyata kindle-nya, tuh, ada ketinggalan di hotel. Pas aku telepon orang hotelnya dia kirim balik kindle aku ke Stockholm, baik banget gak sih!” tambah Sarah. 

Bukan cuma itu aja, Sarah dapat pengalaman sekaligus tantangan lain selama menjalani solo trip. Kemampuan berbahasanya kini di uji saat ia lagi jalan-jalan ke Paris. 

“Aku pengguna uber di Stockholm, aku merasa gak pernah ada masalah selama pakai uber di sana. Kalau balik kemaleman, biasanya aku tinggal buka apps pilih mau pergi dari titik mana ke mana.” Cerita Sarah. 

Ia pikir uber di Paris gak jauh beda dengan uber di Stockholm. Setibanya di statsiun kota Paris waktu sudah larut malam, ia pun bergegas untuk memesan uber ke rumah temannya.

Malang nasib Sarah, pengemudi uber yang ia dapatkan ternyata gak bisa Bahasa Inggris. Ia pun membatalkan pesanannya dan mencoba pergi ke rumah temannya dengan kereta. 

“Tapi, station Paris yang ini cukup masalah buat aku. Karena cabangnya tuh benerbener entah banyak banget. Itu messed up banget sih, mana udah menuju jam 12 malem pula.” timpal Sarah.

Mencoba mencari bantuan dengan orang sekitar juga cukup sulit. Pasalnya, banyak orang Prancis yang ditemui gak bisa Bahasa Inggris.

Untungnya Sarah bertemu dengan mahasiswa dari negara lain yang bisa Bahasa Inggris. Ia diantarkan sampai peron kereta yang dituju dan diberikan lembaran peta daerah Paris. 

Orang itu juga memberitahu Sarah, bis apa yang bisa ia naiki setelah turun dari kereta. Akhirnya di jam 1 pagi, Sarah tiba di stasiun bis untuk melanjutkan perjalanan ke rumah temannya. 

Alasan Sarah Ketagihan Solo Trip

Foto. Dokumen Pribadi Sarah

Pengalaman gak menyenangkan pasti bikin sebal, bahkan bikin kapok bagi yang merasakan. Meski demikian, buktinya Sarah masih gemar menjajal beberapa tempat sendirian.

Lantas, kira-kira kenapa ya, solo trip bikin Sarah ketagihan?

Alasan utamanya, karena lebih bebas. Bisa jalan-jalan sesuai dengan rencana pribadi dan gak diatur dengan plan orang lain adalah impian. Menurut Sarah, semua orang punya keinginan jalan-jalan yang berbeda. 

“Aku lebih suka ke museum dan perpustakaan. Setiap jalan-jalan ke kota baru, setiap pagi aku selalu mengunjungi pasar pagi lalu liat-liat museum dan perpustakaan kota.” Ucap Sarah. 

Kedua, gampang buat booking dan nginep di hostel. Sebab gak perlu repot-repot nyari hotel yang bisa buat rame-rame. 

Ketiga, lebih simple soal jadwal. Kalau capek di jalan bisa istirahat sesuka hati. Paling penting rencananya gak bakal jadi wacana. 

Tips Solo Trip Aman Buat Perempuan 

Foto. Dokumen Pribadi Sarah

“Jujur aja waktu awal-awal berangkat aku gak takut sama sekali.” Ucap Sarah dalam ceritanya. Sarah bilang, ia gak punya pikiran atau pun rasa gak aman selama perjalanan wisatanya ini. 

Malahan ibunya yang merasa ngeri, saat mendengar cerita  Sarah yang melakukan solo trip di negeri orang. Apalagi negara yang dikunjungi adalah Eropa bagian timur yang lebih riskan. 

Terutama buat perempuan, apalagi seorang muslim yang juga pakai hijab. Tentunya bakal jadi tantangan tersendiri dan perlu disiasati. 

“Cara untuk melindungi diri aku, di sana aku gak pakai hijab tapi pakai syal dan topi. Jadi, sama-sama nutupin tapi bentukannya beda” Jelas Sarah. 

Gak bisa dipungkiri bahwa isu rasisme di negara-negara Eropa timur juga masih kerap terjadi. Kedua, Sarah menambahkan untuk selalu memiliki HP dengan jaringan internet yang aktif. Supaya tetap bisa tahu posisi sekarang dan kemungkinan menghubungi kontak darurat. 

Ketiga, powerbank juga mesti siap sedia. Jaga-jaga kalau nanti baterai HP habis gak kebingungan untuk isi daya. Keempat, planning perjalanan secara jelas. Mulai dari penginapan sampai transportasi mesti ada risetnya terlebih dahulu. 

Meskipun udah punya planning yang jelas, Sarah juga pernah kewalahan karena adanya reroute pesawat waktu lagi perjalanan ke Belgia. “Jadi, waktu itu ada teror-teror dan banyak banget bom khususnya di Eropa daratan. Terus, ada banyak pesawat yang akhirnya di cancel dan di reroute.” Ucap Sarah.

Saat itu, seharusnya Sarah tiba di bandara Luchthaven Zaventem tetapi dipindah rute ke South Charleroi Airport. Sayangnya, setibanya di sana banyak bis yang rute operasionalnya gak jelas dan membingunkan. 

Ia pun bertemu dengan seorang stranger  yang kemudian menawarinya tumpangan di mobil kakaknya untuk pergi ke halte bis berikutnya. Sarah menerima tawaran tersebut dan pergi naik mobil mereka.

Sayangnya, perjalanan cukup terhambat karena macet. Mereka turun untuk membeli bir, tapi Sarah gak ikut minum karena memang gak minum alkohol. 

Macet yang berkepanjangan, akhirnya Sarah disarankan untuk turun dan jalan mengikuti kerumunan buat naik bis. 

Sampai di Belgia, kejadian ini terobati dengan pemandangan kota Brugge yang indah. Di sana, Sarah menjumpai bangunan kota yang dialiri dengan sungai-sungai indah.

Menurut Sarah, semua perempuan juga bisa melakukan solo trip. Asal semuanya direncanakan dengan baik dan punya back-up plan. 

“Solo trip menjadi pengalaman unik tersendiri, membuat aku mengenal diri aku sendiri, dan jadi salah satu proses pendewasaan” tutup Sarah pada ceritanya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top